Penyembelihan
menurut bahasa adalah usaha pembunuhan hewan, umumnya hewan yang
diternakkan untuk dijadikan bahan pangan.[1]
Sebelum kita membahas tentang sehatnya memakan daging dengan cara
islami dibandingkan dengan cara non islami, ada baiknya kita mengenali dulu apa
yang dikatakan penyembelihan secara islami dan penyembelihan secara tidak
islami.
1. Penyembelihan
hewan secara islami
Penyembelihan hewan didalam islam diatur dengan
sangat baik. Sehingga penyembelihan islami sangat menghormati pandangan manusia
terhadap alam, juga menghormati nyawa dan rasa sakit hewan sembelihan ketika di
sembelih. Sehingga banyak ditemukan bukti ilmiah, bahwa penyembelihan hewan
secara islami adalah penyembelihan yang sangat maksimal untuk mengurangi rasa
sakit pada hewan dan juga lebih aman di konsumsi. didalam hadits rasulullah SAW bersabda:
ان الله كتب
الاحسان عل كل شيء فاذا قتلتم فأحسنوا القتلة و اذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu.
Apabila engkau membunuh, maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan
jika engkau menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaknya
seorang menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihannya itu.”
Oleh karena itu muncullah aturan
aturan penyembelihan secara islami sebagai berikut:
1)
Pengertian: penyembelihan hewan secara islami yaitu “ memutuskan
jalan makan, minum, nafas,dan urat nadi pada leher hewan sembelihan dengan alat tajam selain kuku dan tulang disertai
dengan nama Allah. “
2)
Syarat penyembelihan:
1.
Penyembelih (disyaratkan orang Islam atau ahli kitab
(orang yang berpegang pada kitab Allah).
2. Hewan
yang disembelih (Disyaratkan halal dimakan, bukan binatang yang diharamkan.)
3. Alat
penyembelihan (Disyaratkan tajam, berbahan dasar besi, logam, batu atau kayu
yang memiliki sisi tajam, dan tidak terbuat dari kuku atau tulang.)
3)
Tata cara penyembelihan
Tata cara penyembelihan ini ada 2 macam yaitu زكاء
(menyembelih dengan merebahkan) dan نهر (menyembelih dengan posisi hewan berdiri). Sekarang
kita fokus kepada posisi yang direbahkan, karena inilah cara yang rata rata di
gunakan di indonesia. Cara penyembelihan dengan membaringkan hewan adalah
sebagai berikut:
1. Hewan yang
akan disembelih ditelentangkan dengan posisi miring menghadap kiblat. Siapkan
di tempat yang nyaman, baik untuk penyembelih maupun hewan yang disembelih,
serta hindari proses penyembelihan dari penglihatan hewan lain.
2. Pisau atau
alat penyembelih diarahkan menghadap leher hewan.
3. Penyembelihan
dimulai dengan membaca nama Allah dan berniat untuk mencari rida Allah swt.
4. Urat nadi,
leher, saluran nafas, dan makanan hewan yang disembelih segera dipotong
menggunakan pisau tersebut sampai benar-benar putus sehingga darahnya mengalir.
2.
Penyembelihan
tidak islami (realita penyembelihan hewan kebarat baratan)
Pada umumnya
pabrik pabrik yang memproduksi daging cepat saji di negara yang penduduknya non
muslim menggunakan metode instan dalam menyembelih hewan konsumsi. Sampai sekarang
ada beberapa cara yang mereka gunakan diantaranya:
1. Pistol baut (captive
bolt stunning)
Pistol baut
dengan mekanisme pegas yang memberikan hentakan keras di kepala hewan hingga
membuatnya pingsan.
2. Senjata api
Ditembakkan
ke kepala hewan hingga diasumsikan telah pingsan (atau tewas).
Hewan
dipaparkan ke dalam kondisi asfiksia dengan gas karbon dioksida higga pingsan. Bisa
dilakukan di dalam ruangan tertutup atau dengan masker gas khusus.
4. Sengatan
listrik
Biasanya
digunakan di penyembelihan ayam untuk memudahkan pemotongan leher ayam dalam
jumlah besar dengan mesin. Sengatan listrik bisa dilakukan melalui pijakan
hewan, melalui tungkai hewan ketika digantung (untuk ayam), atau dengan
mengalirkan air yang terpapar listrik tegangan tinggi ke kepala hewan.
3.
Bukti ilmiah
penyembelihan islami lebih aman bagi hewan
Penyembelihan hewan dengan cara
Islami terlihat penuh darah dan mengerikan. Beberapa mengatakan cara seperti
ini tidak manusiawi dan sadis. Tapi penelitian membuktikan, cara membunuh
seperti ini justru yang paling baik untuk hewan.
Dalam laporan hasil penelitian
yang dilansir islamweb.net dan ditulis viva.co.id, disebutkan hewan tidak
merasakan rasa sakit saat disembelih. Ketika urat nadi yang terletak di bagian
depan tenggorokan digorok, hewan akan segera kehilangan kesadaran, sehingga
tidak mungkin merasakan sakit.
Soal gerakan kejang-kejang yang
umumnya terjadi saat hewan disembelih, menurut studi, bukan wujud rasa sakit.
Dijelaskan, saat pembuluh darah putus, otak tidak lagi menerima aliran darah,
tapi otak besar masih tetap hidup, sistem saraf di belakang leher juga masih terkait
dengan semua sistem tubuh. Akibatnya, sistem saraf mengirimkan sinyal ke
jantung, otot, usus dan seluruh sel tubuh untuk mengirim darah ke otak besar.
Pengiriman darah ke otak besar inilah yang membuat pergerakan sporadis saat
hewan disembelih Darah yang mengalir ke otak besar ke luar melalui lubang
sembelihan di leher. Hewan mati ketika darahnya habis. Seluruh rasa sakit tidak
dirasakan lagi, karena hewan hilang kesadaran ketika urat nadinya putus. Berbeda
dengan mematikan hewan dengan cara lain, misalnya dipukul atau dicekik. Saat
dicekik hewan bisa mengalami kesakitan akibat pusing yang hebat karena darah
tidak bisa mencapai otak. Jika dipukul, hewan mati dengan darah masih dalam
tubuh. Hal ini menyebabkan membran yang melapisi usus besar kehilangan
kemampuan mempertahankan bakteri. Dengan demikian, bakteri menembus tubuh
hewan, berkembang dalam darah dan menyebar ke seluruh daging.
penelitian Profesor Wilhelm
Schulze dan rekannya, Dr Hazem, dari Universitas Hanover, Jerman, pada 1978.
Dipublikasikan pada jurnal mingguan kedokteran hewan Deutsche Tieraerztliche
Wochenschrift, penelitian ini membuktikan bahwa metode penyembelihan lebih aman
dibanding pemukulan atau cara jagal lainnya.
Dalam
melakukan penelitian ini, Keduanya merancang penelitian sangat canggih,
mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan
otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut
Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang
menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan
mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu
juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat
darah keluar karena disembelih.
Untuk
menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah
terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap
cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan
separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi
Barat.
Dalam
Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam,
dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan,
saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena
jugularis. Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu
dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum
penyembelihan hingga hewan benar-benar mati.
Hasil
penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam
menunjukkan:
Pertama: pada 3 detik pertama setelah
ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus),
tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3
detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.
Kedua: pada 3 detik berikutnya, EEG pada
otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip
dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar
kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung
mulai meningkat aktivitasnya.
Ketiga: setelah 6 detik pertama itu, ECG
pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik
sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal
ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang
belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang
terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop
(turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua
peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit
sama sekali!).
Ke empat: karena darah tertarik dan
terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy
meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari
hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing
Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food. karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar
tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang
layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini
sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang
menghasilkan Healthy Food.
Dari
penjelasan di atas bisa di fahami bahwa penyembelihan islami sangat layak untuk
di berlakukan di dunia internasional demi kenyamanan dalam mengkonsumsi daging.
J.
Demikianlah
artikel singkat ini, mohon maaf atas egala kekurangan wallahu a’lam bissawab. Semoga bermanfaat.
Sumber:
Muttafaq
‘alaih: Shahiih al-Bukhari
Nara sumber : ABDUL KHOBIR (512.184)
E MAIL : khobirsiregar@gmail.com
Blogspot : http//:bididkduniabaru.blogspot.co.id


Tidak ada komentar:
Posting Komentar