Selasa, 04 Oktober 2016

penyembelihan secara islami ternyata lebih sehat dikonsumsi dan aman buat hewan sembelihan





            Penyembelihan menurut bahasa adalah usaha pembunuhan hewan, umumnya hewan yang diternakkan untuk dijadikan bahan pangan.[1]
Sebelum kita membahas tentang sehatnya memakan daging dengan cara islami dibandingkan dengan cara non islami, ada baiknya kita mengenali dulu apa yang dikatakan penyembelihan secara islami dan penyembelihan secara tidak islami.
1.      Penyembelihan hewan secara islami
Penyembelihan hewan didalam islam diatur dengan sangat baik. Sehingga penyembelihan islami sangat menghormati pandangan manusia terhadap alam, juga menghormati nyawa dan rasa sakit hewan sembelihan ketika di sembelih. Sehingga banyak ditemukan bukti ilmiah, bahwa penyembelihan hewan secara islami adalah penyembelihan yang sangat maksimal untuk mengurangi rasa sakit pada hewan dan juga lebih aman di konsumsi.  didalam hadits rasulullah SAW bersabda:
ان الله كتب الاحسان عل كل شيء فاذا قتلتم فأحسنوا القتلة و اذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila engkau membunuh, maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika engkau menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaknya seorang menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihannya itu.”

            Oleh karena itu muncullah aturan aturan penyembelihan secara islami sebagai berikut:

1)      Pengertian:  penyembelihan hewan secara islami yaitu “ memutuskan jalan makan, minum, nafas,dan urat nadi pada leher hewan sembelihan  dengan alat tajam selain kuku dan tulang disertai dengan  nama Allah. “  


2)      Syarat penyembelihan:
1.      Penyembelih (disyaratkan orang Islam atau ahli kitab (orang yang berpegang pada kitab Allah).
2.      Hewan yang disembelih (Disyaratkan halal dimakan, bukan binatang yang diharamkan.)
3.      Alat penyembelihan (Disyaratkan tajam, berbahan dasar besi, logam, batu atau kayu yang memiliki sisi tajam, dan tidak terbuat dari kuku atau tulang.)
3)      Tata cara penyembelihan
Tata cara penyembelihan ini ada 2 macam yaitu زكاء (menyembelih dengan merebahkan) dan نهر  (menyembelih dengan posisi hewan berdiri). Sekarang kita fokus kepada posisi yang direbahkan, karena inilah cara yang rata rata di gunakan di indonesia. Cara penyembelihan dengan membaringkan hewan adalah sebagai berikut:
1.      Hewan yang akan disembelih ditelentangkan dengan posisi miring menghadap kiblat. Siapkan di tempat yang nyaman, baik untuk penyembelih maupun hewan yang disembelih, serta hindari proses penyembelihan dari penglihatan hewan lain.
2.      Pisau atau alat penyembelih diarahkan menghadap leher hewan.
3.      Penyembelihan dimulai dengan membaca nama Allah dan berniat untuk mencari rida Allah swt.
4.      Urat nadi, leher, saluran nafas, dan makanan hewan yang disembelih segera dipotong menggunakan pisau tersebut sampai benar-benar putus sehingga darahnya mengalir.
2.      Penyembelihan tidak islami (realita penyembelihan hewan kebarat baratan)
Pada umumnya pabrik pabrik yang memproduksi daging cepat saji di negara yang penduduknya non muslim menggunakan metode instan dalam menyembelih hewan konsumsi. Sampai sekarang ada beberapa cara yang mereka gunakan diantaranya:
1.      Pistol baut (captive bolt stunning)
Pistol baut dengan mekanisme pegas yang memberikan hentakan keras di kepala hewan hingga membuatnya pingsan.
2.      Senjata api
Ditembakkan ke kepala hewan hingga diasumsikan telah pingsan (atau tewas).
3.      Karbon dioksida
Hewan dipaparkan ke dalam kondisi asfiksia dengan gas karbon dioksida higga pingsan. Bisa dilakukan di dalam ruangan tertutup atau dengan masker gas khusus.
4.      Sengatan listrik
Biasanya digunakan di penyembelihan ayam untuk memudahkan pemotongan leher ayam dalam jumlah besar dengan mesin. Sengatan listrik bisa dilakukan melalui pijakan hewan, melalui tungkai hewan ketika digantung (untuk ayam), atau dengan mengalirkan air yang terpapar listrik tegangan tinggi ke kepala hewan.
3.      Bukti ilmiah penyembelihan islami lebih aman bagi hewan

Penyembelihan hewan dengan cara Islami terlihat penuh darah dan mengerikan. Beberapa mengatakan cara seperti ini tidak manusiawi dan sadis. Tapi penelitian membuktikan, cara membunuh seperti ini justru yang paling baik untuk hewan.
Dalam laporan hasil penelitian yang dilansir islamweb.net dan ditulis viva.co.id, disebutkan hewan tidak merasakan rasa sakit saat disembelih. Ketika urat nadi yang terletak di bagian depan tenggorokan digorok, hewan akan segera kehilangan kesadaran, sehingga tidak mungkin merasakan sakit. 
Soal gerakan kejang-kejang yang umumnya terjadi saat hewan disembelih, menurut studi, bukan wujud rasa sakit. Dijelaskan, saat pembuluh darah putus, otak tidak lagi menerima aliran darah, tapi otak besar masih tetap hidup, sistem saraf di belakang leher juga masih terkait dengan semua sistem tubuh. Akibatnya, sistem saraf mengirimkan sinyal ke jantung, otot, usus dan seluruh sel tubuh untuk mengirim darah ke otak besar. Pengiriman darah ke otak besar inilah yang membuat pergerakan sporadis saat hewan disembelih Darah yang mengalir ke otak besar ke luar melalui lubang sembelihan di leher. Hewan mati ketika darahnya habis. Seluruh rasa sakit tidak dirasakan lagi, karena hewan hilang kesadaran ketika urat nadinya putus. Berbeda dengan mematikan hewan dengan cara lain, misalnya dipukul atau dicekik. Saat dicekik hewan bisa mengalami kesakitan akibat pusing yang hebat karena darah tidak bisa mencapai otak. Jika dipukul, hewan mati dengan darah masih dalam tubuh. Hal ini menyebabkan membran yang melapisi usus besar kehilangan kemampuan mempertahankan bakteri. Dengan demikian, bakteri menembus tubuh hewan, berkembang dalam darah dan menyebar ke seluruh daging.
penelitian Profesor Wilhelm Schulze dan rekannya, Dr Hazem, dari Universitas Hanover, Jerman, pada 1978. Dipublikasikan pada jurnal mingguan kedokteran hewan Deutsche Tieraerztliche Wochenschrift, penelitian ini membuktikan bahwa metode penyembelihan lebih aman dibanding pemukulan atau cara jagal lainnya.
Dalam melakukan penelitian ini, Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.
Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.
Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis. Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum penyembelihan hingga hewan benar-benar mati. 
Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:
Pertama: pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.
Kedua: pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.
Ketiga: setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).
Ke empat: karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food. karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.
Dari penjelasan di atas bisa di fahami bahwa penyembelihan islami sangat layak untuk di berlakukan di dunia internasional demi kenyamanan dalam mengkonsumsi daging. J.
Demikianlah artikel singkat ini, mohon maaf atas egala kekurangan wallahu a’lam bissawab. Semoga bermanfaat.


Sumber:
Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari



Nara sumber    : ABDUL KHOBIR (512.184)
E MAIL          : khobirsiregar@gmail.com
Blogspot          : http//:bididkduniabaru.blogspot.co.id




[1] KBBI : Sembelih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar